BPOM Tarik Obat Ranitidin, Bagaimana Jika Sudah Terbiasa Minum?

Pertengahan September lalu, masyarakat dihebohkan dengan pemberitaan obat ranitidin yang tercemar zat yang bersifat karsinogenik alias pemicu kanker. Namun, pemberitaan itu tak langsung membuat BPOM menarik obat ranitidin. Hingga akhirnya, Sabtu (5/10), info tentang penarikan obat itu diunggah di Instagram dan situs resmi lembaga pemerintah tersebut. 

“Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, Badan POM memerintahkan kepada industri farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran,” tulis BPOM dalam edarannya tertanggal 4 Oktober 2019, dikutip dari detik.com.

Nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake). Apabila dikonsumsi di atas ambang batas secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, bahan ini bisa memicu kanker.

Produk yang diperintahkan BPOM untuk ditarik, yaitu:

  • Ranitidine berbentuk cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Pharos tbk
  • Zantc cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Glaxo Wellcome Indonesia (sukarela ditarik sendiri oleh perusahaan)
  • Rinadin sirup 75 mg/5mL keluaran PT Global Multi Pharmalab
  • Indoran cairan injeksi keluaran PT Indofarma

Cara kerja ranitidin di lambung

Ranitidin adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala atau masalah yang terjadi akibat adanya produksi asam yang berlebihan di dalam lambung. Obat ini merupakan obat golongan penghambat histamin-2 atau H2 (H2 blocker). 

Menurut dr. M. Dejandra Rasnaya dari KlikDokter, produksi cairan asam yang terjadi di lambung dilakukan oleh sel yang bernama sel parietal yang terletak di dinding lambung. Terdapat beberapa reseptor yang terletak di sel parietal tersebut yang berperan menghasilkan asam lambung, di antaranya reseptor gastrin, asetilkolin, dan histamin-2. 

“Ketiga reseptor tersebut akan reaktif terhadap hormon dan neurotransmiter. Dengan demikian, ranitidin yang termasuk golongan penghambat histamin-2 akan berperan menghambat jalur reseptor tersebut. Produksi asam lambung dari sel parietal pun akan berkurang,” jelasnya. 

Kondisi asam lambung berlebih dapat menyebabkan berbagai gangguan penyakit. Contohnya dispepsia, gastritis atau peradangan lambung, tukak lambung, tukak usus dua belas jari, dan asam lambung yang naik ke kerongkongan atau GERD

Berbagai gangguan penyakit di atas seharusnya bisa diatasi dengan mengonsumsi ranitidin, sebenarnya masalah di atas bisa teratasi. 

Alternatif obat untuk mengatasi asam lambung selain ranitidin

Sayangnya, obat tersebut kini ditarik oleh BPOM dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi lagi. Anda yang sudah terbiasa dan merasa cocok dengan ranitidin pun mungkin bingung memilih alternatif obat untuk mengatasi masalah asam lambung

Menanggapi hal tersebut, ahli pencernaan sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Ari Fahrial Syam mengatakan, untuk mengetahui obat apa yang bisa menjadi alternatif pengganti ranitidin, pasien harus berkonsultasi dulu ke dokter. 

Menurutnya, obat pengganti ranitidin itu banyak. Misalnya obat penghambat pompa proton, seperti omeprazole dan lain sebagainya. Senada dengan hal tersebut, dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, menjelaskan bahwa omeprazole atau antasida (baik tablet kunyah maupun cairan) ampuh membantu mengatasi asam lambung

“Untuk antasida, obat itu juga lebih gampang dicari oleh orang. Obat ini umum dan bisa dibeli secara bebas. Untuk omeprazole, lansoprazole, esomeprazole, dan lain-lain, sebaiknya tidak dibeli secara bebas karena ditakutkan bisa tak tepat sasaran dan salah dosis,” jelas dr. Adeline. 

Selain minum obat-obatan, masalah asam lambung yang belum parah sebenarnya juga dapat diatasi dengan cara alami. Beberapa cara yang dianjurkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu:

  • Makan dalam porsi kecil, tetapi dengan frekuensi yang sering 
  • Kelola stres dengan baik 
  • Jangan langsung rebahan dan tidur setelah makan
  • Perbanyak konsumsi air putih 
  • Hindari kafein, cokelat, soda, makanan asam, pedas, dan berlemak 
  • Konsumsi teh jahe karena jahe bersifat anti-inflamasi dan dapat menjadi obat alami heartburn

Setelah BPOM menarik obat ranitidin, masih ada beberapa alternatif obat dan penanganan yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi permasalahan lambung. Jangan lupa, hindari mengonsumsi obat lambung, kecuali dengan resep dokter. Sebab, pemberian obat yang tepat mesti disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.